Gara-gara Kima

Gara-gara Kima

By: ISMAIL MAQBUL

Hallo sobat nalayan.id, masih ingat dengan kasus para petualang cantik di salah satu televisi swasta akhir pekan lalu yang menjadi viral? Ya.. penyebabnya adalah host dari tayangan tersebut mengkonsumsi kima atau kerang raksasa yang diliput di Kepulauan Derawan, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Loh gara-gara KIMA kok jadi rame? Okk.. kita cari tau informasi dari si hewan ini.

Secara morfologi, KIMA atau dikenal dengan kerang raksasa merupakan hewan dari kelas bivalvia yang bertubuh lunak dan dilindungi sepasang sepasang cangkang, yang mana ukuran dari cangkang tersebut dapat mencapai 120 cm dan berat lebih dari 200 kg. Ukuran Spesimen cangkang KIMA terbesar yang pernah ditemukan adalah 137 cm dengan berat sekitar 250 kg, tepatnya di Pantai Barat Tapanuli, Sumatera Utara, yang saat ini menjadi koleksi salah satu museum di Irlandia Utara. Sementara itu, spesimen terberat yang pernah ada ditemukan di Pulau Ishagaki, Jepang, dengan panjang cangkang 115 cm dan berat 333 kg.

Berbicara fungsi ekologi, Hewan ini memiliki peran penting di ekosistem, yaitu sebagai filter alami air laut -saat makan kima akan menyedot air laut yang berisi plankton dan kotoran kemudian dikeluarkan setelah bersih-, dan cangkangnya menjadi tempat hidup berbagai biota terumbu karang terutama zooxanthellae -makhluk hidup bersel tunggal yang berfotosintesis-, dan ikan-ikan kecil. Bahkan, cangkangnya dapat mendeteksi kondisi perairan laut seperti kenaikan suhu dan polusi. Selain itu, secara ekonomi hewan ini telah lama dimanfaatkan sebagai kuliner khas, yang tentunya dapat berkontribusi dalam pertumbuhan ekonomi masyarakat pesisir.

Sama halnya dengan jenis kerang laut yang dapat dikonsumsi lainnya, seperti oyster dan scallops, berdasarkan hasil analisis proksimat, KIMA memiliki kandung protein cukup tinggi, sementara kandungan lemak dan kolesterolnya rendah. Atas dasar inilah KIMA menjadi salah satu primadona untuk konsumsi karena proteinnya yang tinggi.Namun, yang menjadi perbincangan serius dari si Giant Clamp saat ini bukanlah kandungan proteinnya yang tinggi, melainkan keberadaanya dialam yang semakin sedikit. Dikutip dari sebuah jurnal dengan judul “Pemanfaatan Kima secara Berkelanjutan (A Sustainable Utilization of Kima)”, Secara total, status keberadaan kima untuk semua jenis, dikategorikan menjadi hewan langka yang dilindungi undang-undang, yaitu Undang-Undang No.5 Tahun 1990 tentang konservasi sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya, serta Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1999 tentang pengawetan tumbuhan dan satwa. Konvensi perdagangan dunia untuk jenis tanaman dan hewan liar yang terancam punah (CITES) memasukkan golongan binatang ini dalam daftar binatang yang dilindungi sejak tahun 1983. Saat ini, 7 jenis kima masuk dalam Red List (terancam punah) dari International Union for Conservation and Natural Resources (IUCN).

LALU APA YANG HARUS KITA LAKUKAN DONG? Sederhananya, kita harus menjaga keberadaan dari si KIMA ini di alam agar tetap lestari, dengan tidak merusak dan tidak mengkonsumsinya.KIMA KAN KANDUNGAN PROTEINNYA TINGGI? Memang bener KIMA kaya akan protein, tapi masa iya sobat nalayan.id mau konsumsi KIMA yang keberadaan sangat sedikit di alam. Hehe..APAKAH ADA GANTINYA HEWAN LAUT YANG MEMILIKI KANDUNGAN PROTEIN TINGGI ?Pastinya ada dong. IKAN jawabannya. Bukan hanya kayak akan protein, tetapi juga lemak, vitamin, dan mineral. Dan yang pasti keberadaan ikan di laut sangat melimpah dibandingkan dengan KIMA. Jadi sobat nalayan.id dapat mengkonsumsi sepuasanya (tapi jangan berlebihan juga ya). Jadi, daripada kita konsumsi KIMA, mending konsumsi IKAN aja.Sekarang beli ikan laut dengan kualitas yang baik tidak perlu ribet. Cukup kunjungi website nalayan.id kalian akan mendapatkan berbagai jenis ikan laut dengan kualitas terbaik dan harga yang bersahabat.Mari saatnya kita wujudkan “Revolusi Protein” bersama nalayan.id Salam Maritim Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: